KUPANG, terasntt.co — Tim peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn. melakukan kunjungan riset penting dengan mengunjungi Asrama Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Nasional (SPOBNAS) di Nusa tenggara Timur (NTT) dalam rangka penelitian skema fundamental yang didanai oleh Kemdikbudristek tahun 2025.
Kunjungan ini berfokus pada pengembangan modul “Psifolk” untuk meningkatkan ketangguhan mental atlet pencak silat, khususnya dalam menghadapi cedera saat bertanding.
Tim peneliti didampingi oleh dua pakar, yaitu Dr. Wanda Listiani, M.Ds bidang Desain Kebudayaan/Desain Virtual dan Anrilia E.M. Ningdyah, Ph.D., Psikolog, yang memberikan perspektif psikologi dalam kajian ketangguhan mental seorang atlet pencak silat.
Kunjungan diawali dengan observasi langsung di asrama atlet SPOBNAS NTT untuk melihat dari dekat aktivitas sehari-hari para atlet pencak silat.
Tim peneliti meninjau fasilitas dan lingkungan tempat tinggal para atlet guna memahami kondisi yang membentuk karakter mereka.
Pendekatan ini merupakan bagian dari metodologi riset yang komprehensif, di mana data tidak hanya dikumpulkan melalui wawancara, tetapi juga melalui pengamatan langsung terhadap interaksi dan dinamika sosial di antara para atlet yang tinggal di asrama jauh dari keluarga.
Setiap hari, para atlet di asrama hidup dalam rutinitas yang ketat. Keseharian mereka dipenuhi dengan disiplin yang tinggi, di mana jadwal latihan, makan, dan istirahat diatur secara terstruktur.
Saat malam tiba, tepat pukul 9 malam, mereka harus meletakkan semua perangkat elektronik dan bersiap untuk beristirahat. Kedisiplinan ini berlanjut hingga pagi buta, saat alarm berbunyi pada pukul 4 pagi, menandakan waktu untuk memulai latihan rutin, kecuali pada akhir pekan. Hidup dengan pola yang teratur ini melatih mereka untuk menjadi atlet yang fokus dan berkomitmen.
Wawancara mendalam menjadi agenda utama dalam kunjungan ini. Prof. Sri dan tim peneliti berdialog langsung dengan berbagai pihak terkait, mulai dari pembina hingga atlet. Kepala asrama memberikan informasi berharga mengenai pola pembinaan, kedisiplinan, dan tantangan yang dihadapi dalam mengelola para atlet muda.
“Setiap hari para atlet ini harus mengikuti latihan secara terstruktur apalagi persiapan menghadapi PON tahun 2028 yang akan diselenggarakan di Kupang sebagai tuan rumahnya”, kata Erna Poela Kalla.
Wawancara ini membantu tim peneliti memahami konteks institusional dan dukungan yang tersedia bagi atlet.
Selain itu, wawancara juga dilakukan dengan para pelatih untuk menggali lebih dalam tentang strategi latihan, penanganan cedera fisik, dan metode pembinaan mental yang selama ini diterapkan.
Pandangan dari pelatih sangat penting untuk mengidentifikasi celah atau kebutuhan akan intervensi psikologis yang lebih terstruktur.
”Para atlet membutuhkan ketangguhan mental tentang tekanan yang dihadapi atlet saat berkompetisi, serta bagaimana cedera dapat diatasi sehingga tidak mempengaruhi performa dan mental mereka secara signifikan”, kata Pelatih Oliva Sadi ketika ditemui di asrama atlet SPOBNAS NTT.
Puncak dari kegiatan ini adalah sesi wawancara dengan atlet, baik senior maupun junior. Tim peneliti mendengarkan langsung pengalaman bertanding para atlet dalam menghadapi cedera, bagaimana mereka berjuang untuk pulih, dan tantangan mental yang mereka rasakan.
Cerita-cerita dari para atlet ini menjadi data primer yang sangat berharga untuk merumuskan modul Psifolk yang relevan dan tepat sasaran. Dengan memahami perasaan dan pemikiran mereka, tim peneliti dapat merancang intervensi yang benar-benar dibutuhkan oleh atlet.
Kolaborasi riset ini diharapkan dapat menghasilkan model intervensi yang efektif dan inovatif untuk meningkatkan ketangguhan mental atlet. Modul Psifolk yang menggabungkan kearifan lokal, filosofi pencak silat, dan ilmu psikologi ini diharapkan menjadi solusi holistik yang dapat diadopsi oleh berbagai lembaga pembinaan olahraga di Indonesia. Keberhasilan riset ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi atlet pencak silat di Kupang, tetapi juga berpotensi menjadi acuan nasional dalam pembinaan mental atlet di berbagai cabang olahraga.(**)






