Temu Inspiratif Local Champions Nusantara, Gelar Aksi Nyata Mitigasi & Adaptasi Iklim Berbasis Komunitas

Jumpa pers

KUPANG, terasntt.co — Kerjasama Voices for Just Climate Action (VCA) Indonesia dengan Bengkel APPeK hadirkan para penggerak perubahan iklim dari berbagai penjuru negeri. Perubahan iklim merupakan krisis global yang berdampak nyata dan semakin akut dirasakan masyarakat terutama yang tinggal di wilayah-wilayah rentan.

” VCA Indonesia, sebagai inisiator kolaboratif untuk keadilan iklim, menyelenggarakan Temu Inspiratif Local Champion, Aksi Nyata Mitigasi & Adaptasi Iklim Nusantara berbasis kominitas ini,” kata Direktur Bengkel APPeK Kupang, Vinsen Bureni dalam keterangan pers usai pembukaan kegiatan tersebut di Sasando Hotel, Kupang (19/6/2025).

Dia menegaskan wilayah yang juga rentan terhadap bencana banjir dan polusi adalah Jakarta dan Yogyakarta, bahkan juga terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), NTB, dan Papua yang berjuang menghadapi krisis ekologi, air bersih, cuaca ekstrem serta ancaman terhadap ketahanan pangan masyarakat adat dan lokal.

Namun di balik tantangan tersebut, kata Vinsen tumbuh beragam inisiatif lokal yang sarat inovasi, memanfaatkan pengetahuan adat berbasis kearifan lokal, pengalaman langsung, dan semangat gotong royong.

” Salah satu upaya untuk memperkuat dan mengangkat suara masyarakat akar rumput ini datang dari Voices for Just Climate Action (VCA), aliansi organisasi masyarakat sipil yang terbentuk sejak 2021 dan beranggotakan 38 organisasi di Indonesia. VCA bertujuan memastikan solusi iklim berbasis dan yang dipimpin oleh masyarakat lokal bisa terdengar hingga tingkat nasional dan global, lewat pendekatan berbasis keadilan iklim, penguatan kepemimpinan komunitas, serta partisipasi penuh kelompok marjinal seperti perempuan, pemuda, masyarakat adat, dan masyarakat yang tinggal di kawasan padat di perkotaan. Aliansi ini dikelola oleh empat organisasi utama: Yayasan Humanis, Slum DwelIers International dan Speak Indonesia, SSN dan konsorsium C4Ledger, serta WWF Indonesia,” kata Vinsen didampingi
Febrilia Ekawati, Direktur Eksekutif dari YKWS, Yayasan Humanis Jakarta Alfa Gumilang, Program Manager SPEAK Indonesia Dormaringan Hs Napitu, TRANSFORM NTB Suyono dan Koordinator KOALISI KOPI Yurgen Nubatonis.

Demikian juga disampaikan Suyono dari TRANSFORM NTB, bahwa C4Ledger, sebagai aliansi pengelola pengetahuan yang dikoordinasikan oleh KONSEPSI NTB dengan dukungan SSN, telah memainkan peran penting dalam mendokumentasikan dan menyebarluaskan praktik-praktik baik adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dari berbagai daerah.

” Melalui kerja riset partisipatif di DKI Jakarta, Papua, dan NTT, C4Ledger menghimpun data berbasis komunitas untuk mendukung pembelajaran lintas wilayah sekaligus mendorong perumusan kebijakan yang lebih responsif. Di NTT, C4Ledger berkolaborasi erat dengan Bengkel APPeK NTT, lembaga advokasi komunitas yang telah lama aktif mendorong kebijakan progresif di Indonesia Timur. Bersama-sama, keduanya memfasilitasi studi terkait dampak El Niño seperti kekeringan dan angin kencang, mendukung penyusunan Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD API), serta membangun ruang dialog antara komunitas dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan yang dikoordinir C4Ledger dan Bengkel APPeK NTT yang didukung SSN melalui program VCA sebagai upaya menghadirkan ruang temu inspiratif, dialog lintas wilayah, dan pembelajaran kolektif antara para local champions dari berbagai penjuru Indonesia.

” Selama dua hari penuh, forum ini akan menghadirkan 60 local champions; penggerak komunitas yang terdiri dari petani, nelayan, tokoh adat, perempuan, pemuda, fasilitator lapangan, hingga jurnalis warga, yang datang dari delapan wilayah berbeda seperti NTT, Jakarta, Jogjakarta, NTB, Surabaya, Lampung, Palembang, dan Papua. Mereka akan terlibat dalam sesi berbagi pengalaman, diskusi tematik, serta kunjungan lapangan ke lokasi praktik baik di sekitar Kupang,” tambah Vinsen.

Pantauan media, hari pertama kegiatan ini dibuka dengan forum inspirasi bertajuk “Cerita dari Ujung Negeri”, di mana enam penggerak lokal akan membagikan kisah perjuangan mereka menghadapi krisis iklim, mulai dari wilayah urban padat di Jakarta, pengelolaan hutan adat di Papua, krisis air di Lembata, hingga strategi pemanfaatan dana desa untuk mitigasi berbasis inklusi di NTT. Visual seperti foto, artefak komunitas, dan video singkat akan memperkuat narasi yang dibagikan, membangun koneksi emosional antar peserta dan audiens.

Vinsen Bureni menjelaskan, bahwa kegiatan temu inspiratif ini berlangsung dua hari, yakni lewat sesi Dialog Tematik Dinamis dengan membagi peserta dalam kelompok kecil yang membahas topik-topik spesifik, dengan metode diskusi rotasi agar semua peserta dapat bertukar perspektif secara menyeluruh.

” Hari kedua, para peserta akan diajak menjelajah praktik langsung melalui kunjungan ke 4 (empat) komunitas inspiratif di Kupang. Sesi Jelajah Inspirasi ini dirancang sebagai pengalaman imersif, di mana peserta tidak hanya menyerap informasi, tapi juga terlibat langsung melalui walking dialogue, pembuatan video diary, dan kolase narasi visual yang mencerminkan pemahaman mereka terhadap aksi nyata yang mereka saksikan,” ujarnya.

” Puncak kegiatan akan ditandai dengan Panggung Jejaring “Iklim Kita, Aksi Kita”, sebuah sesi reflektif kolektif menggunakan metode story circle. Di sini, para peserta yang hadir akan menyatukan pengalaman mereka dalam bentuk kolaborasi artistik: puisi iklim, teater pendek, dan penandatanganan komitmen bersama sebagai jaringan penggerak perubahan iklim berbasis komunitas. Sesi ini sekaligus menjadi penegasan bahwa perubahan iklim bukan hanya soal kebijakan dan angka, tapi tentang kehidupan sehari-hari dan hubungan antar manusia yang perlu dijaga dan diperkuat,” lanjutnya.

Vinsen menegaskan, forum Temu Inspiratif ini bertujuan menghasilkan dampak nyata dan berkelanjutan. ” Diharapkan akan teridentifikasi setidaknya sepuluh praktik baik dalam mitigasi dan adaptasi iklim yang dapat direplikasi di wilayah lain. Jejaring penggerak lokal yang terbentuk akan menjadi fondasi penting bagi gerakan iklim yang lebih inklusif, responsif dan adil.

” Dengan semangat kolektif dan pendekatan kreatif seperti Visual Documentation Booth, Wall of Inspiration, dan Kolase Peta Aksi Iklim, forum ini mengajak setiap individu untuk menyumbangkan gagasan, membangun solidaritas, dan menjadi bagian dari perubahan. Seluruh jaringa VCA Indonesia bersama tuan rumah kegiatan ini yaitu C4Ledger dan Bengkel APPeK NTT percaya bahwa jawaban atas krisis iklim global dapat ditemukan dalam keberanian dan ketangguhan komunitas lokal. Dari Kupang, suara-suara perubahan itu akan menggema lebih luas; menuju masa depan iklim yang lebih adil dan berkelanjutan untuk semua,” ucap Vinsen.(m45)

Exit mobile version