KUPANG, terasntt.co — Peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, baru-baru ini melakukan kunjungan penting ke Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kunjungan ini bertujuan untuk menjajaki kolaborasi riset inovatif berjudul ‘Desain Digital Twin Atlet sebagai Modul Psifolk untuk Intervensi Ketangguhan Mental Atlet Cedera pada Kompetisi Pencak Silat Indonesia’. Prof. Dr. Sri Rustiyanti dalam kunjungan tersebut didampingi oleh Dr. Wanda Listiani, M.Ds., seorang ahli dalam desain digital yang akan mengembangkan aspek teknologi dalam riset, serta Anrilia, EM Ningdyah, S.Psi., M.E.d., Ph.D., Psikolog., seorang psikolog yang akan merancang intervensi mental atlet dalam penelitian ini.
Prof. Sri menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari keprihatinan atas dampak psikologis serius yang kerap dialami atlet pencak silat pasca-cedera. “Cedera tidak hanya memengaruhi fisik atlet, tetapi juga meninggalkan jejak trauma, kecemasan, bahkan depresi yang dapat menghambat proses pemulihan dan menghalangi mereka untuk kembali ke performa puncak,” ujarnya. Selanjutnya menambahkan, riset ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah modul psifolk, yaitu pendekatan psikologis yang berakar pada kearifan budaya lokal, yang diintegrasikan dengan teknologi Digital Twin.
Dr. Wanda Listiani memaparkan bahwa Digital Twin adalah replika virtual dari atlet yang dapat digunakan untuk refleksi, simulasi dan analisis. Platform Digital Twin ini akan menjadi alat intervensi personalisasi yang memungkinkan atlet memvisualisasikan proses rehabilitasi mereka, melakukan latihan mental, dan membangun kembali kepercayaan diri dalam lingkungan virtual yang aman dan terkontrol,” jelasnya. Dipertegas juga oleh Fenny Ratu “Dengan cara mereview performa yang telah dilakukan saat pertandingan sangat penting diamati secara cermat sebagai refleksi dan evaluasi, di mana letak kesalahan yang dilakukan ketika melakukan pertahanan dan serangan terhadap lawan”, kata atlet karate yang juga sekaligus seorang dosen psikologi yang tergabung dalam HIMPSI.
Senada, yang disampaikan oleh Anrilia, Ph.D., menekankan pentingnya pendekatan psifolk yang relevan dengan konteks budaya Indonesia. “Kami yakin bahwa intervensi psikologis akan lebih efektif jika diselaraskan dengan kearifan lokal. Modul psifolk akan menggabungkan teknik psikologi modern dengan unsur-unsur budaya Indonesia, seperti filosofi pencak silat atau nilai-nilai seperti gotong royong dan kesabaran, untuk meningkatkan ketangguhan mental atlet,” imbuh Anrillia.
Pihak HIMPSI NTT menyambut baik inisiatif riset ini dan menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi. Ketua HIMPSI NTT memahami betul dimensi psikologis dalam dunia olahraga dan melihat potensi besar dari inovasi yang ditawarkan tim ISBI Bandung. Kolaborasi dengan HIMPSI NTT diharapkan dapat memperkuat aspek keilmuan psikologi dalam penelitian ini, khususnya dalam penerapan dan validasi modul intervensi di lapangan. Kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk menggabungkan keahlian seni, desain digital, dan psikologi guna memberikan solusi komprehensif bagi atlet pencak silat yang mengalami cedera. Diharapkan, riset ini akan berkontribusi signifikan dalam membantu atlet mengatasi tantangan mental, sehingga mereka dapat pulih sepenuhnya dan kembali berprestasi di kancah baik nasional maupun internasional.
Anggota HIMPSI NTT yang ditemui kebetulan hampir semuanya Dosen Prodi Psikologi FKM Undana. “Kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan ISBI Bandung. Riset ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya aspek spiritual dalam pembinaan atlet, yang sangat relevan dengan nilai-nilai budaya dan keyakinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur,” ujar Rizky Paradita Manafe, S.Psi., M.Psi., Psikolog, sekaligus merangkap sebagai Ketua HIMPSI NTT. Dalam kegiatan riset ini, tim peneliti ISBI Bandung fokus pada berbagai aspek yang memengaruhi kondisi mental dan psikis para atlet. Salah satu temuan menarik yang muncul dari diskusi dan pengamatan lapangan adalah peran krusial dari dukungan spiritual.
Dukungan spiritual, khususnya melalui doa, memberikan ketenangan batin dan motivasi tambahan yang tidak bisa diukur secara fisik. Ini menunjukkan bahwa pendekatan holistik yang melibatkan aspek mental, fisik, dan spiritual diperlukan untuk meningkatkan performa dan kesehatan atlet secara keseluruhan” ujar Dita dosen prodi psikologi yang juga sekaligus ketua HIMPSI NTT. Di sela-sela wawancara dengan para dosen psikologi yang sekaligus juga anggota HIMPSI, “Kami menemukan bahwa keberadaan seorang pendeta atau pastor sangat penting bagi para atlet, dapat memberikan spirit sebelum bertanding” kata Prof Sri di ruang dosen Prodi Psikologi FKM Universitas Nusa Cendana Kupang.(**)
