Ketika Sosok Virtual Mengalahkan Kenyataan: Peringatan Baudrillard di Era Layar Kita

Foto ilustrasi

KEHADIRAN influencer virtual seperti Aitana López menandai babak baru relasi manusia dengan media digital. Aitana bukan manusia sungguhan, melainkan konstruksi visual hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang diciptakan untuk tampil layaknya sosok nyata di Instagram. Dengan rambut merah jambu khas dan persona yang dirancang sesuai tren sosial terkini, Aitana mempunyai ribuan pengikut serta kontrak komersial. Ia bahkan menerima pesan pribadi dari figur publik yang menyangka berinteraksi dengan manusia asli. Fenomena ini mencerminkan pergeseran mendalam dalam representasi sosial: citra digital sepenuhnya artifisial kini dapat diterima sebagai realitas kredibel oleh audiens.

Fenomena Aitana López menjadi contoh nyata dari gagasan Jean Baudrillard tentang simulasi dan hiperrealitas. Menurut Baudrillard, di era media massa, citra dan model tiruan membanjiri kehidupan hingga membuat batas antara yang asli dan tiruan menjadi kian samar. Representasi tak lagi merujuk pada dunia nyata, melainkan berdiri sendiri seolah nyata dan bahkan mampu menggantikan kenyataan itu sendiri.

Di masa media sosial kini, pandangan Baudrillard terasa sangat relevan. Platform seperti Instagram penuh tampilan serba ideal di mana ini merupakan hasil kurasi dan filter digital. Kita dapat melihat potongan hidup yang telah disunting: foto liburan tampak mewah tanpa jejak macet, atau wajah mulus tanpa noda berkat filter. Media sosial tidak lagi sekadar mencerminkan realitas, melainkan memproduksi versi realitas lain yang lebih rapi dan memikat daripada aslinya. Inilah dunia simulasi tempat kita hidup: realitas semu yang begitu meyakinkan hingga kita terima sebagai nyata.

Aitana López adalah contoh simulakra di era digital. Diciptakan oleh agensi desain The Clueless di Barcelona, sosok Aitana meupakan hasil kreativitas digital tanpa figur manusia nyata sebagai acuan. Rubén Cruz, desainer Aitana, mengatakan timnya “menciptakannya dari hal-hal yang paling disukai masyarakat.” Hasilnya tercipta figur perempuan muda nyaris sempurna: atletis, bersemangat, berambut merah jambu ala kultur pop Asia, serta berkepribadian ramah dan peduli.

Singkatnya, Aitana merupakan personifikasi berbagai tren sosial. gabungan sifat ideal yang diramu agar disukai banyak orang.
Sebagai influencer virtual, seluruh kehidupan Aitana dikendalikan tim kreatif di ruang rapat. Setiap pekan mereka “mengarang” keseharian Aitana: ke mana Ia akan “pergi”, apa yang akan di“lakukan”, dan foto apa yang diunggah supaya pengikutnya tetap terpikat. Tentu semua yang dihasilkan adalah fiktif, tidak ada pemotretan atau jalan-jalan sungguhan, hanya kombinasi Photoshop dan algoritma AI yang membuat Aitana bisa contohnya berakhir pekan di Madrid secara digital.

BACA JUGA:  Politik Tanpa Sekat Melki-Johni Wujudkan NTT Lebih Baik

Menyadari pengikut menginginkan narasi kehidupan, tim Aitana menciptakan ilusi keseharian rekaan agar audiens merasa terhubung dengannya. Di sinilah simulasi menjadi sangat nyata: Aitana memiliki alur hidup rekaan yang dikemas layaknya reality show pribadi dengan kepribadian konsisten. Para penggemarnya pun berinteraksi seolah Ia benar- benar hidup, bahkan kabarnya ada selebritas yang sempat mengajaknya kencan tanpa sadar Aitana hanyalah citra digital.

Menurut Baudrillard, Aitana adalah simulakra murni, sosok tanpa rujukan nyata tetapi berfungsi layaknya manusia di lanskap media sosial. Aitana menghasilkan realitasnya sendiri dan mempunyai pengaruh nyata terhadap perilaku audiens, dari keterlibatan emosional hingga keputusan belanja, padahal ia fiksi. Fenomena virtual influencer seperti Aitana tidak bisa dianggap remeh. Survei ION tahun 2022 di Amerika Serikat menemukan 58% responden mengikuti minimal satu influencer virtual, dan 35% pernah membeli produk yang dipromosikan tokoh maya semacam itu. Artinya, keaslian biologis tak lagi mutlak diperlukan agar figur dianggap “nyata” dan berpengaruh.

Selama sosok virtual seperti Aitana menyuguhkan konten menarik, cerita menghibur, dan visual menawan, audiens mudah lupa bahwa semua itu cuma rekayasa digital. Inilah hiperrealitas sesungguhnya, batas antara yang asli dan imajiner telah melebur. Di dunia Aitana, simulasi terasa sama nyatanya bahkan mungkin lebih daripada realitas sebenarnya.

Tren influencer virtual ini membawa dampak sosial luas. Bagi masyarakat, patut dipertanyakan: bagaimana kehadiran tokoh sempurna hasil rekayasa memengaruhi cara kita memandang diri dan realitas? Kesempurnaan semu para figur virtual dikhawatirkan mendorong obsesi tidak sehat pada generasi muda untuk mengejar standar kecantikan maupun gaya hidup yang mustahil.

Bahaya hiperrealitas muncul ketika manusia menjadikan yang hiperreal sebagai teladan. Kita bisa terus mengejar ideal kosong, citra sempurna yang tak akan pernah tercapai di dunia nyata karena memang fiktif. Jika terlalu larut, kita bisa kehilangan orientasi akan keaslian. Saat simulasi menggantikan realitas sepenuhnya, upaya mencari yang asli pun menjadi sia-sia.

BACA JUGA:  Gubernur NTT Resmikan Gedung Gereja Toraja Jemaat Kupang

Kisah Aitana López hanyalah pucuk gunung es realitas semu era media sosial. Nyatanya, kita semua turut andil dalam ekosistem simulasi ini. Setiap kali memakai filter agar wajah lebih rupawan, hanya mengunggah momen pencapaian dan bahagia, atau menata personal brand yang ideal di dunia maya, sebenarnya kita sedang membuat versi simulasi diri sendiri.

Identitas digital kita sering kali merupakan kurasi fragmen realitas yang telah dipoles. Ada jarak antara diri online dan offline yang memberi ruang bagi tumbuhnya simulasi; profil media sosial kita pun ibarat etalase hiperreal di mana bukan kebohongan, melainkan versi ideal yang kita pilih dari hidup kita.
Efeknya terhadap cara pandang tak bisa diabaikan. Lambat laun, menjelajahi linimasa media sosial serasa mengeksplorasi dunia paralel di samping dunia fisik. Pada akhirnya kehidupan di dunia maya sering menampilkan orang-orang yang terlihat selalu bahagia, pasangan harmonis tanpa konflik, tubuh ideal tanpa kekurangan entah itu milik manusia asli maupun tokoh virtual. Batas antara yang nyata dan yang tersimulasi pun semakin kabur. Apakah nilai seseorang kini ditentukan oleh seberapa menarik kehidupan digitalnya? Baudrillard menyebut situasi semacam ini sebagai “padang gurun realitas” atau kondisi di mana simulasi mendahului yang nyata hingga realitas pun kehilangan acuannya.

Pada akhirnya, kemunculan influencer berbasis AI seperti Aitana López menggugah kita untuk lebih kritis menyikapi realitas maya. Media sosial memang dapat membangun realitas semu yang meyakinkan dan memengaruhi cara kita memahami keseharian. Namun, kesadaran akan simulasi adalah langkah awal agar kita tidak tersesat di dalamnya. Mengagumi Aitana dan figur virtual lain boleh-boleh saja, anggap saja sebagai hiburan. Tetapi perlu diingat, di balik feed Instagram yang tertata sempurna dan persona digital yang terlihat ideal, ada realitas manusiawi yang tidak selalu indah. Jangan sampai realitas hiperreal di media membuat kita menyepelekan nilai hal-hal autentik seperti emosi tulus, interaksi langsung, dan ketidaksempurnaan yang justru penting bagi kemanusiaan. Hiperrealitas mungkin mengaburkan kenyataan, tapi pilihan ada di tangan kita: tenggelam dalam simulasi atau tetap berpijak di dunia nyata.

*) Penulis merupakan Mahasiswi Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, Mira Natalia Pellu.