Wujudkan Program Kita Sehat, Gubernur Melki Dorong Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Gubernur Melki Membuka pertemuan perdana Program Kita Sehat, Selasa (14/4/2026)

KUPANG, terasntt.co — Gubernur NTT Melki Laka Lena mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem kesehatan daerah guna mewujudkan Program Kita Sehat. Penegasan ini juga disampaikan Melki saat membuka Rapat Provincial Committee (PCC) KITA SEHAT Provinsi NTT di Aula Fernandes, Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Selasa (14/4/2026).

Di hadapan Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas Diah Lenggogeni, Sekretaris Ditjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Hendrastuti Pertiwi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Hendra Wibawa, serta perwakilan DFAT Kedutaan Besar Australia Joanna O’Shea, Gubernur Melki menyampaikan apresiasi atas keterlibatan berbagai pihak, yang dinilai menunjukkan kuatnya komitmen bersama dalam membangun sistem kesehatan yang terintegrasi di NTT.

“Kehadiran pemerintah pusat dan mitra pembangunan internasional menunjukkan bahwa program ini sangat penting. Ini menjadi fondasi sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, provinsi, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara nasional Program KITA SEHAT dirancang untuk mendukung pencapaian target kesehatan dalam RPJPN 2025-2045 dan RPJMN 2025–2029, dengan fokus pada penguatan layanan kesehatan manusia dan hewan.

Menurutnya, terdapat empat fokus utama dalam program tersebut, yakni penguatan kebijakan dan layanan kesehatan primer, pendekatan gizi dan inklusi bagi kelompok rentan, integrasi kesehatan manusia dan hewan untuk mencegah penyakit zoonosis, serta penguatan keamanan kesehatan.

“Pendekatan kesehatan manusia dan hewan menjadi penting untuk mencegah penyebaran penyakit. Ini harus kita lakukan secara terpadu,” tegasnya.

Lebih lanjut Melki mengatakan, arah program tersebut sejalan dengan RPJMD NTT yang menargetkan terwujudnya masyarakat yang sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan, dengan penekanan pada upaya promotif dan preventif.

“Implementasi program ini harus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, termasuk melalui program posyandu, intervensi gizi, dan percepatan penanganan stunting,” ucap Melki.

Melki menekankan, bahwa program KITA SEHAT juga harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan memperkuat ketahanan sistem kesehatan daerah, termasuk melalui pemanfaatan data dan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi.

“Kita ingin memastikan setiap kebijakan dan program benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap rapat PCC ini dapat menghasilkan kesepakatan konkret, mulai dari penetapan struktur kelembagaan, lokasi prioritas kabupaten/kota, hingga arah implementasi program yang jelas.

“Saya minta diskusi hari ini mampu menerjemahkan program ini ke dalam manajemen yang aplikatif di setiap daerah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Counsellor Governance & Human Development DFAT Kedutaan Besar Australia, Joanna O’Shea, menegaskan komitmen Pemerintah Australia dalam mendukung penguatan sistem kesehatan Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan.

Ia menyebut, Indonesia merupakan mitra prioritas dalam kerja sama jangka panjang Australia, termasuk melalui berbagai program sebelumnya di sektor kesehatan.

“Program KITA SEHAT merupakan kelanjutan sekaligus perluasan dari upaya bersama dalam memperkuat layanan kesehatan primer,” kata Joanna.

Menurutnya pertemuan PCC ini menjadi fase penting dalam transisi dari tahap persiapan menuju implementasi program.

“Pertemuan hari ini akan menyepakati struktur kelembagaan PCC, menentukan lokasi prioritas kabupaten/kota, serta merumuskan prioritas implementasi tahun 2026,” jelasnya.

Joanna juga menekankan bahwa fokus program diarahkan pada kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, agar memperoleh akses layanan kesehatan yang berkualitas.

“Kami ingin memastikan program ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, khususnya kelompok yang paling membutuhkan,” tandasnya.

Dari sisi perencanaan nasional, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas Diah Lenggogeni menegaskan pentingnya pendekatan terpadu lintas sektor dalam pelaksanaan program.

Ia menyebut, KITA SEHAT akan mendorong percepatan intervensi layanan kesehatan manusia, kesehatan hewan, serta kesehatan lingkungan secara simultan.

“Kami mendorong adanya kabupaten/kota yang menjadi model implementasi program ini, sehingga bisa menjadi contoh praktik baik,” kata Diah.

Menurutnya, penguatan sistem kesehatan mencakup layanan kesehatan primer, penguatan laboratorium, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap ancaman kesehatan.

“NTT memiliki tantangan besar, tetapi juga peluang untuk menunjukkan bahwa pendekatan terpadu berbasis kebutuhan daerah dapat menghasilkan perubahan nyata,” ujarnya.

Menurut Diah pentingnya kejelasan tata kelola program, termasuk pembagian peran antar lembaga serta mekanisme koordinasi yang efektif.

“Struktur kelembagaan harus jelas, siapa melakukan apa dan apa output yang dihasilkan. Ini penting agar program berjalan terukur dan berkelanjutan,” tegasnya.

Rapat PCC KITA SEHAT ini turut membahas usulan lokasi prioritas, rencana kegiatan tahun 2026, serta penyelarasan program pusat dan daerah agar berjalan selaras dan efektif.

Pemerintah berharap, melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan mitra internasional, Program KITA SEHAT tidak hanya menjadi kebijakan, tetapi mampu menghadirkan perubahan nyata dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat NTT, terutama bagi kelompok rentan dan wilayah dengan akses layanan terbatas.(**)

Exit mobile version