KUPANG, terasntt.co — Kejuaraan Tinju Memperebutkan Piala Wali Kota Kupang I Tahun 2026 kembali digelar. Memasuki penyelenggaraan kedua sejak pertama kali digagas pada 2025, ajang ini tak sekadar menjadi panggung adu kekuatan di atas ring, tetapi juga diarahkan sebagai wadah pembinaan atlet muda sekaligus gerakan solidaritas bagi korban bencana gempa di Flores.
Wali Kota Kupang, Christian, menegaskan bahwa kejuaraan tersebut memiliki nilai strategis dalam membangun fondasi olahraga tinju di Kota Kupang.
Menurutnya, kompetisi bukan hanya soal mencari juara, tetapi menjadi ruang untuk menemukan, membina, dan mematangkan talenta-talenta muda agar mampu membawa nama Kota Kupang pada berbagai ajang olahraga bergengsi.
Kejuaraan ini diharapkan mampu menjaring bibit-bibit unggul yang akan dipersiapkan memperkuat kontingen Kota Kupang pada POPDA 2026 serta menjadi bagian dari kekuatan daerah menuju PON 2028.
Pada kesempatan yang sama Ketua panitia, Karel Muskanan, menjelaskan Kejuaraan Tinju Memperebutkan Piala Wali Kota I Tahun 2026 digelar oleh Pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Kupang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kupang.
Kejuaraan ini diikuti 66 atlet dari 11 sasana tinju binaan Pertina Kota Kupang. Mereka terdiri dari 60 atlet putra dan enam atlet putri yang berlaga dalam sejumlah kelompok umur, yakni U-12, U-14, U-16, U-18 hingga U-36.
Penyelenggaraan tahun ini juga menjadi momentum penting karena dirangkaikan dengan berakhirnya masa bakti kepengurusan Pertina Kota Kupang periode 2022–2026 di bawah kepemimpinan Elisabeth Walu Waja.
Piala Daur Ulang, Pesan untuk Lingkungan
Salah satu hal yang membuat kejuaraan ini berbeda adalah desain trofi bergilir yang diperebutkan para petinju.
Trofi tersebut dibuat dari bahan daur ulang berupa sisa-sisa kayu. Konsep ini menjadi simbol bahwa olahraga juga dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Piala bergilir berbentuk kepalan tangan itu merupakan ide Wali Kota Kupang dan dirancang untuk diperebutkan secara berkala setiap tahun.
Dengan demikian, trofi tersebut diharapkan menjadi bagian dari warisan pembinaan olahraga sekaligus simbol keberlanjutan tradisi kompetisi tinju di Kota Kupang.
Dari Ring Tinju, Pesan Bangkit untuk Flores
Nilai yang dibawa dalam kejuaraan ini tidak berhenti pada olahraga. Semangat perjuangan di atas ring juga diterjemahkan menjadi pesan sosial bagi masyarakat.
Disiplin, keberanian, ketangguhan mental dan kemampuan untuk bangkit setelah jatuh menjadi filosofi yang ingin ditanamkan kepada para atlet.
Semangat tersebut dinilai relevan dengan perjuangan masyarakat menghadapi berbagai tantangan sosial, mulai dari penyebaran hoaks, narkoba, kemiskinan hingga pengangguran.
Karena itu, kejuaraan ini sekaligus menjadi momentum untuk menggalang kepedulian bagi saudara-saudara di Flores yang terdampak gempa bumi sejak 15 Agustus 2026.
Panitia membuka aksi donasi kemanusiaan melalui QRIS dan kotak sumbangan di lokasi pertandingan. Sebagai bentuk kepedulian awal, pihak penyelenggara memberikan donasi sebesar Rp 5 juta.
“Kejuaraan ini kami laksanakan dengan satu tujuan utama, yaitu beramal bagi saudara-saudara kita di daratan Flores,” tegas perwakilan pengurus Pertina Kota Kupang dalam sambutannya.
Pesan yang ingin disampaikan pun jelas: masyarakat Flores tidak sendirian menghadapi masa sulit. Dari tengah arena pertandingan, masyarakat Kota Kupang mengirimkan dukungan dan solidaritas bagi para penyintas bencana.
Bonus Belasan Juta Rupiah
Untuk menambah motivasi para petinju, panitia juga menyiapkan piala, piagam penghargaan dan uang pembinaan bagi para juara.
Rinciannya, juara pertama memperoleh Rp 500.000, juara kedua Rp 350.000 dan juara ketiga Rp 200.000. Jika dikumulatifkan, total uang pembinaan yang disiapkan mencapai belasan juta rupiah.
Kejuaraan ini sekaligus mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Kupang, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang, Sekretaris Daerah serta jajaran DPRD Kota Kupang.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong pembinaan olahraga prestasi di Kota Kupang, sekaligus memastikan ring tinju tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga generasi muda yang disiplin, tangguh dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
(Humas KONI NTT)






