KUPANG, terasntt.co — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengevaluasi penanganan gempa bumi Flores bermagnitudo 7,7 melalui rapat koordinasi virtual, Sabtu (26/9/2026). Evaluasi diarahkan untuk mempercepat peralihan dari masa tanggap darurat menuju masa transisi pemulihan.
Rapat dipimpin Gubernur dan Wakil Gubernur NTT bersama Sekda NTT, Fransiskus Sales Sodo, dan diikuti Forkopimda, BPBD NTT serta tujuh kabupaten terdampak, yakni Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Ende dan Sikka.
Pembahasan mencakup evaluasi status darurat, penetapan penerima Dana Siap Pakai (DSP) BNPB serta percepatan penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Nagekeo akan mengakhiri masa tanggap darurat pada 27 September dan beralih ke masa transisi pemulihan. Ngada telah memasuki masa transisi hingga 16 Desember 2026, dengan 240 pengungsi masih berada di Kecamatan Riung dan pembangunan hunian sementara terus dipercepat.
Di Manggarai Barat, masa transisi dijadwalkan hingga 11 Oktober 2026, sementara verifikasi rumah rusak telah disampaikan ke BNPB. Ende dan Sikka telah menyelesaikan uji publik pendataan perumahan dan memasuki tahap penyesuaian masa sanggah.
Sementara Manggarai diminta segera menetapkan keputusan terkait perpanjangan masa tanggap darurat atau beralih ke masa transisi pemulihan.
Pemprov NTT menegaskan percepatan penyusunan R3P karena waktu pengusulan hanya 90 hari. Dokumen sektor perumahan Manggarai Barat dan Manggarai Timur telah ditandatangani, sedangkan Manggarai masih dalam proses.
Sekda NTT Fransiskus Sales Sodo meminta seluruh daerah mempercepat validasi data, uji publik dan penandatanganan dokumen agar bantuan pemulihan BNPB segera direalisasikan.
Kebutuhan dasar, logistik, pangan pengungsi serta pembangunan hunian sementara tetap menjadi prioritas, sembari memastikan seluruh daerah segera menetapkan status penanganan bencana secara resmi.(**/m45)
