Guru dan PGRI Dalam Perspektif Mengembalikan Marwah Profesi ( Sebuah Refleksi )

Oplus_131072

Oleh : Bernard Sili Atasoge

​Hari Ulang Tahun ( HUT) Guru Nasional (lHGN) dan Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGRI) yang diperingati setiap tanggal 25 November bukan sekadar perayaan seremonial. Di balik lagu Hymne Guru yang bergema dan pemotongan tumpeng, terselip momentum krusial untuk direnungkan bersama sebagai “general check-up” terhadap kesehatan sistem pendidikan kita.

Guru saat ini, menghadapi tantangan semakin kompleks mulai dari adaptasi kurikulum, gelombang teknologi AI, hingga dinamika hubungan orangtua-guru yang kian sensitif. Karena itu dengan peringatan Hari Guru dan PGRI semua pihak diajak berhenti sejenak sambil menoleh ke belakang, ke samping namun tetap memandang ke depan atas peran masing-masing dalam membangun pendidikan di negeri ini.

Bahwa jaminan rasa aman dan sejahtera bagi guru tentunya
​pemerintah memegang kunci yang berpedoman pada regulasi dan sistem. Namun tak mungkin pemerintah berjalan sendirian. Semua komponen mestinya turun tangan membuka hati sekaligus membangun niat, sehati dalam bingkai “Maju Bersama” menembus jargon “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” dengan aksi nyata sebagai wujud rasa peduli dan tanggung jawab bersama untuk memanusiakan generasi bangsa yang sedang tumbuh untuk meraih mimpi di hari esok.

Mencermati situasi beberapa tahun terakhir dunia pendidikan kita diwarnai banyak kasus. Guru dipidana dan diviralkan melalui media sosial saat mendisiplinkan siswa. Guru yang seharusnya menjadi sosok pendidik tak tergantikan teknologi apa pun kini diperhadapkan dengan hukum atas nama hak asasi manusia serta undang – undang lainnya. Guru dilapor, juga menjadi buah bibir di media sosial lantaran berniat mengubah karakter siswa dalam koridor edukasi.

Atas tindakan mendidik ini masih dipandang secara dangkal dan sempit alias tak manusiawi oleh oknum tertentu. Dengan begitu dunia pendidikan seakan disimpang jalan, hilang arah, lantas guru menjadi manusia serba salah.

Sekolah sesungguhnya menjadi pusat pembentukan karakter, berubah jadi ruang adu argumen atas nama kemanusiaan. Saling menyalahkan diantara kita. Guru kemudian menjadi sosok pesakitan di meja polisi atau di ruang- ruang para hakim pengadilan negeri kita. Marwah profesi guru disanjung dalam nada hormat seketika redup karena adanya celoteh miring dari sudut- sudut sekolah.

Padahal semua tahu bahwa semaju apa pun teknologi tak mampu menggantikan peran guru di ruang-ruang kelas megah yang dibangun dengan uang miliaran. Di sini sebetulnya kita sedang mencari pembenaran atas nama martabat manusia sambil mengoyak-ngoyak martabat dan profesi guru.

Atas keprihatinan ini maka dalam peringatan HGN dan PGRI tahun ini menjadi ruang refleksi untuk bersaksi atas peran bersama dalam membangun pendidikan di negeri ini. Pemerintah sebaiknya lebih mempertegas supremasi hukum dan pedagogis bagi guru sebagai payung hukum untuk melindungi guru dan profesinya dalam kerangka pendidikan karakter bagi putera puteri bangsa, dalam koridor edukasi dan nirkekerasan.

Masalah guru honorer dan seleksi PPPK juga hingga saat ini masih menyisakan pekerjaan rumah bagi kita. Guru honor pada sekolah negeri masih gagal dalam seleksi tahap dua kini merana tanpa ujung. Sedang yang lain masih cemas memikirkan asap dapur sebagai sumber kekuatan raga ketika berdiri di depan kelas. Hal ini tentu berpengaruh tidak maksimalnya para guru di ruang kelas. Fokus anggaran harus benar-benar menetes ke kantor kesejahteraan para guru sebagai garda terdepan bukan sekadar janji semata.

Di sisi lain penyederhanaan
​administrasi pembelajaran harus menjadi kajian pihak kompeten dalam jajaran birokrasi terkait. Jangan biarkan waktu guru habis di depan laptop mengisi aplikasi atau laporan administratif. Biarkan mereka kembali menyapa, menatap mata murid-muridnya yang tengah merindukan kehadiran mereka proses belajar mengajar. Kembalikan esensi guru sebagai pendidik, bukan administrator.

​Sementara itu guru dituntut adaptasi dan hati yang Luas.
​Bagi rekan-rekan guru, zaman telah berubah cepat. Murid yang kita hadapi hari ini (Gen Z dan Alpha) berbeda jauh dengan murid satu dekade lalu. Guru kekinian mestinya terus menggali padang keguruan tanpa henti sesuai tuntutan perkembangan dan kemajuan saat ini. Guru menjadi teladan pembelajar sepanjang hayat.

Jangan alergi pada teknologi atau metode baru, jika murid sudah berlari dengan AI dan digitalisasi, guru tidak boleh berjalan santai. Relevansi adalah kunci agar suara kita didengar di kelas.​

Untuk menumbuhkan kecerdasan emosional di atas intelektual saat ini tak serumit tempo dulu. “Transfer ilmu pengetahuan” bisa dilakukan oleh Google. Namun, “transfer nilai” dan “sentuhan hati” hanya bisa dilakukan oleh guru. Jadilah telinga yang mendengar dan bahu yang menopang, karena banyak siswa hari ini yang rapuh secara mental.

​Jangan lupa bahagia. Energi positif di kelas hanya bisa lahir dari guru yang sejahtera batinnya. Istirahatlah jika lelah, namun jangan menyerah. Jadilah guru sepanjang hayat. Guru tetap dicintai dirindukan bukan saja anak didik tetapi semua warga yang pernah disentuh oleh ketulusan hati guru dalam mengabdi.

​Sedang kapasitas orangtua mestinya diposisikan sebagai mitra, bukan raja atau hakim penegak keadilan dalam tindak pidana. ​Ini adalah poin refleksi yang paling krusial tahun ini. Hubungan orangtua dan sekolah perlu dikalibrasi ulang.
​Sekolah bukan bengkel ketok atau tempat servicis electronik lainnya.

Pendidikan adalah proses kolaboratif. Tidak bisa orangtua menyerahkan anak ke sekolah lalu berharap anak tersebut otomatis menjadi pintar dan berkarakter mulia tanpa campur tangan pendidikan di rumah. Namun demikian harus diakui bahwa guru bukanlah maklum sempurna. Ibarat tak ada gading yang tak retak. Guru pasti tak luput dari salah dan keliru.

​Karena itu jika ada keluhan, datang lah, bicarakan dengan guru dari hati ke hati di ruang tertutup, bukan di media sosial. Hilangnya kepercayaan orangtua terhadap guru adalah awal dari runtuhnya wibawa pendidikan bagi si anak itu sendiri.

​Guru adalah profesional yang terlatih. Berikan mereka ruang untuk mendidik anak kita termasuk mengajarkan konsekuensi dan kedisiplinan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh,militan bukan generasi yang pemicu konflik sosial pada tenda- tenda pesta tetangga sebelah rumah atau desa sekitarnya.

​HUT Guru tahun ini harus menjadi titik balik untuk menghentikan mentalitas “saling menyalahkan”. Pendidikan Indonesia hanya akan maju jika terjadi sinergi harmonis (Gotong Royong) antara kebijakan Pemerintah yang protektif, kompetensi Guru yang adaptif, dan dukungan Orangtua yang suportif.
​Selamat Hari Guru Nasional. Mari bersama Guru Hebat kita wujudkan Indonesi Kuat. Dan melalui kurikulum Merdeka Belajar sesungguhnya, di mana guru tersenyum sejahtera, dan murid tumbuh bahagia.

( Penulis adalah Kepala Sekolah pada Satuan Pendidikan Formal SD Negeri Polugedang – Kecamatan Adonara Tengah Kab. Flores Timur)

Exit mobile version