Apa Penting Psikolog Pendamping Atlit ?, Ikuti Diskusinya

Foto bersama usai Diskusi tentang Pencak Sikat di NTT di gedung Rektorat Undana Kupang, Rabu (6/8/2025)

KUPANG, terasntt.co — Salah satu poin yang diangkat dalam diskusi antara Pengurus Ikatan Pencak Silat (IPSI) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama tim peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Prof. Dr. Sri Rustiyanti, S.Sn., M.Sn.
Dr. Wanda Listiani, S.Sos., M.Ds fan, dan Dr.
Anrilia, EM Ningdyah, S.Psi., M.Ed., Ph.D., Psikolog adalah tentang Psikologi Atlit.

Bertempat di Gedung Rektorat Undana Kupang, Rabu (6/8/2025), Kepada Ketua IPSI NTT dr. Messerasi Ataupah, Sekretaris Ferdi Amatae, Wakil Ketua 3 Maxi Nggeolima dan Ketua Bidang Humas Thomas Duran, Prof. Sri menanyakan tentang ketangguhan mental Atlit ketika mengalami cedera, apa ada trauma ataukah ketangguhan mentalnya seperti apa ?.

Secara singkat Ketua IPSI Messerasi menjelaskan, bahwa ketika bertarung, salah satunya mengalami cedera, maka sudah pasti mental Atlit bersangkutan terganggu. Namun dalam kondisi yang serba terbatas itu, yang bisa dilakukan adalah pelatih pendamping memberikan support dan peneguhan untuk mengembalikan mentalnya agar Atlit bersangkutan melanjutkan pertarungan.

BACA JUGA:  Audiensi Bersama KPU dan Bawaslu Kota Kupang, Pj. Walikota Fokus Edukasi Pemilih Pemula dan Jaga Netralitas ASN Jelang Pilkada 2024

” Untuk itu psikolog Pendamping menjadi penting. Memang sangat sulit kita berharap dari pemerintah. Untuk itu kami berharap kepada ibu Prof bisa melanjutkan hak ini ke petinggi kami di pusat. Sudah saatnya ada Psikolog Pendamping Atlit. Pengalaman kami pemerintah hanya bisa menyediakan Psikolog pendamping pada saat Pekan Olahraga Nasional (PON) itupun sangat terbatas,” kata Messe.

Demikian juga dilanjutkan Ferdi Amatae dan Maxi Nggeolima, bahwa mental Atlit sangat berpengaruh terhadap daya juang di gelanggang.

Menurut Ferdi, sesungguhnya mental Atlit sudah ditempah dan bina secara berjenjang dari setiap perguruan hingga tahap seleksi dan pemusatan latihan hingga sampai pada pertarungan.

” Pola pembinaan kita secara berjenjang, sehingga yang lolos menjadi Atlit adalah mereka yang sudah siap secara mental, juga fisik dan teknik betarung,” ujar Ferdi.

Maxi Nggeolima mengatakan, bahwa kaitan dengan psikologi Atlit yang belum lazim diketahui adalah ketika Atlit yang telah dinyatakan menang, namun kemudian dibatalkan oleh panitia karena alasan tertentu.

BACA JUGA:  Kembalikan Populasi Ternak Sapi Bali di NTT. Melki - Johni Gandeng SMK- PP Lili Siapkan Pakan Surplus

” Ini yang perlu diperhatikan, karena sering terjadi Atlit sudah diumumkan menang lalu dipanggil panitia untuk bernegosiasi dan hasilnya dinyatakan kalah. Ini pasti ada guncangan mental yang luar biasa dari Atlit bersangkutan, sehingga penting adanya Psikolog Pendamping. Kami mohon ibu Prof Sri dari hasil penelitian ini bisa disampaikan juga kepada petinggi kami di Pusat. Mungkin perlu ada bidang psikolog di dalam struktur organisasi,” tandasnya.

Menyikapi itu Dr. Anrilia yang juga seorang Psikolog menyatakan, bahwa psikolog Pendamping Atlit itu penting dan bisa di tindaklanjuti, namun tergantung hasil penelitian ibu prof.

Selain soal mental Atlit, Prof Sri juga menanyakan seperti apa pola pembinaan Atlit bagi Cabor Silat di Nusa Tenggara Timur dan seperti apa persiapan menuju PON 2028.

Mengakhiri diskusi tersebut,Prof Sri bersama tim menyampaikan limpah terima kasi kepada pengurus IPSI NTT yang telah meluangkan waktu untuk diskusi bersama dalam kaitan dengan penelitian Pencak Silat di Nusa Tenggara Timur.(m45)