Oleh : Mira Natalia Pellu
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang – Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta
(Dalam tulisan ini, istilah “bahasa ibu” dan “bahasa daerah” digunakan secara bergantian untuk merujuk pada bahasa pertama yang dipelajari di lingkungan keluarga dan komunitas).
Lini masa media sosial kita hari ini dipenuhi suara-suara lokal yang kian percaya diri. Logat daerah, ungkapan khas, dan bahasa ibu bermunculan dalam video TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts yang ditonton jutaan orang setiap hari.
Bahasa yang dulu lekat dengan ruang keluarga dan kampung halaman kini memiliki panggung baru di layar ponsel generasi muda.
Sekilas, pemandangan ini menggoda kita untuk menyimpulkan bahwa bahasa daerah sedang hidup-hidupnya di tangan generasi digital. Namun data Sensus Penduduk 2020 menunjukkan kecenderungan lain: semakin muda generasinya, semakin jarang bahasa daerah digunakan dalam percakapan sehari-hari di rumah. Persentase penutur aktif bahasa daerah di kalangan anak muda berada di bawah generasi orang tua dan kakek-nenek mereka. Pada saat yang sama, berbagai lembaga kebahasaan terus mengingatkan tentang ancaman berkurangnya penggunaan bahasa daerah di Indonesia.
Kontras inilah yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Di linimasa, bahasa daerah tampak subur, lucu, akrab, dan viral. Di ruang keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, penggunaannya justru perlahan menyusut. Yang sedang berubah bukan hanya jumlah penuturnya, melainkan cara bahasa itu hadir dalam kehidupan generasi muda.
Bahasa ibu yang dahulu terutama digunakan untuk bercakap kini semakin sering tampil sebagai bahasa performatif: untuk menunjukkan identitas, membangun kedekatan, dan menarik perhatian di ruang digital. Bahasa daerah menemukan panggung baru di media sosial, tetapi pada saat yang sama berisiko kehilangan pijakan dalam percakapan sehari-hari.
Fenomena ini sangat terlihat di platform video pendek. Dalam satu unggahan, seorang kreator dapat membuka dengan kalimat, “Guys, let me explain this,” lalu beberapa detik kemudian beralih ke bahasa daerah ketika mulai bercerita lebih personal. Pergeseran dari bahasa Indonesia atau Inggris ke bahasa lokal dikenal sebagai code switching atau alih kode. Selama ini alih kode dipahami sebagai ciri kemampuan bilingual dan strategi menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Namun di tangan generasi digital, fungsinya berkembang lebih jauh.
Dalam perspektif komunikasi, pilihan bahasa di media sosial bukan sekadar kebiasaan berbicara tetapi menjadi bagian dari strategi pengelolaan identitas di ruang publik digital. Generasi muda menggunakannya untuk menegosiasikan posisi mereka di antara dunia global dan lokal, sekaligus membangun hubungan yang terasa lebih dekat dengan audiens. Bahasa daerah dan logat lokal menjadi penanda keaslian diri di tengah lautan konten yang seragam.
Tidak mengherankan jika banyak kreator justru dikenal karena gaya tutur lokal yang mereka pertahankan. Susi Mince, misalnya, konsisten menggunakan logat Kupang dalam berbagai konten keseharian maupun promosi produk. Cara bicaranya menjadi identitas yang langsung dikenali penonton. Hal serupa terlihat pada Tante Lala yang mempertahankan logat Manado dan gaya komunikasi yang apa adanya. Dalam kasus-kasus seperti ini, bahasa daerah bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan bagian dari strategi tampil dan bertahan di tengah persaingan perhatian di media sosial.
Di titik ini, algoritma mengambil peran penting. Sistem rekomendasi media sosial tidak memilih bahasa berdasarkan nilai budayanya, melainkan berdasarkan tingkat keterlibatan yang dihasilkannya. Video yang lebih lama ditonton, lebih sering dikomentari, dibagikan, atau ditirukan memiliki peluang lebih besar muncul di beranda pengguna lain. Bahasa daerah yang terdengar unik, lucu, atau mudah dijadikan bahan candaan sering kali memperoleh keuntungan dalam mekanisme ini.
Akibatnya, bahasa ibu berpotensi bertahan bukan terutama karena terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan karena berhasil menjadi konten yang menarik perhatian. Dalam situasi seperti ini, bahasa daerah berubah menjadi semacam aset digital yang dipoles, dikemas, dan diukur nilainya melalui jumlah tayangan, komentar, dan interaksi.
Namun fenomena ini tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai kemenangan atau kekalahan bahasa daerah. Generasi muda sesungguhnya tidak sedang memilih menjadi global atau lokal. Mereka melakukan keduanya sekaligus. Bahasa Indonesia dan Inggris digunakan ketika ingin mengikuti tren global, menjangkau audiens yang lebih luas, atau membahas topik tertentu. Sebaliknya, bahasa daerah muncul ketika mereka ingin menunjukkan kedekatan, menghadirkan humor yang lebih mengena, atau menegaskan identitas asal-usul mereka.
Dimensi identitas ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan emosi. Banyak anak muda menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris ketika membicarakan pekerjaan, pendidikan, dan berbagai informasi umum. Namun ketika berbicara tentang kerinduan terhadap rumah, kemarahan yang sulit dijelaskan, atau kasih sayang yang paling intim, mereka sering kembali pada bahasa ibu. Bahasa pertama bukan sekadar kumpulan kosakata, melainkan ruang emosional tempat seseorang pertama kali belajar memberi nama pada rasa sakit, bahagia, rindu, dan cinta.
Di ruang digital, kita juga menemukan kreator yang menjadikan bahasa lokal bukan sekadar sisipan, tetapi inti dari praktik komunikasi mereka. Berbagai akun secara konsisten menggunakan bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Minang, Batak, atau bahasa daerah lainnya dalam konten humor, edukasi, dan kehidupan sehari-hari. Melalui konten-konten seperti ini, media sosial dapat berfungsi sebagai ruang pelestarian budaya yang hidup, bukan sekadar etalase identitas.
Meski demikian, teknologi digital selalu menghadirkan dua sisi. Di satu sisi, media sosial membuka peluang baru untuk mendokumentasikan tradisi lisan, memperkenalkan kosakata daerah, dan menghubungkan generasi muda dengan warisan budaya mereka. Di sisi lain, dominasi bahasa global serta pola komunikasi yang serba cepat berpotensi mengurangi penggunaan aktif bahasa daerah apabila tidak diimbangi oleh praktik nyata di rumah, sekolah, dan komunitas.
Paradoksnya, bahasa daerah tampak hadir di mana-mana di layar, tetapi sering kali absen dalam percakapan antargenerasi. Banyak anak muda masih memahami bahasa ibu mereka, tetapi tidak lagi terbiasa menggunakannya secara aktif. Bahasa daerah mulai bergeser dari bahasa percakapan menjadi bahasa performatif: hadir sebagai aksen, simbol identitas, dan elemen konten yang menarik perhatian, tetapi semakin jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan. Apakah maraknya bahasa daerah di media sosial otomatis berarti bahasa itu sedang selamat? Ataukah kita sedang menyaksikan bentuk baru komodifikasi identitas, ketika bahasa ibu dikemas menjadi konten yang lucu, menyentuh, dan menguntungkan secara digital, tetapi tidak cukup kuat mengubah kebiasaan berbahasa dalam kehidupan nyata?
Panggung digital memang memberi ruang baru bagi bahasa dan budaya lokal untuk tampil lebih percaya diri. Namun visibilitas tidak selalu berarti keberlanjutan. Bahasa ibu mungkin semakin sering terdengar di video pendek, kolom komentar, dan siaran langsung, tetapi masa depannya tetap ditentukan oleh percakapan-percakapan sederhana di luar layar. Sebab bahasa daerah tidak hanya membutuhkan penonton yang menyukai kontennya, melainkan penutur yang terus menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, kita mungkin akan menyaksikan sebuah ironi: bahasa ibu semakin populer sebagai konten, tetapi semakin asing sebagai bahasa percakapan.(**)






